Minggu, 22 November 2009

About Sahabat

Sahabatku, kau mengenang fajar keremajaan dengan kesenangan dan menyesali kepergiannya, aku mengingatnya seperti seorang tawanan perang di dalam belenggu penjara.
Kau bicara tentang masa kanak2 dan remaja sebagai suatu zaman emas, bebas dari kekangan, kendala dan aturan. Tapi aku menyebutnya sebagai masa dukacita yang mencekam, tanpa bisa menemui jalan menuju dunia pengetahuan dan kebijaksanaan. Hingga datang gelora cinta yang membuka semua pintu hatiku dan menyinari relung2 hatiku. Cinta menganugerahkanku sebuah lidah dan air mata.

Setiap saat kututup kupingku dari bisingnya 'kicau burung' kota. Kudengar bisikan2 lembut liukan anak sungai yang bergerak ke hulu dgn gemerisiknya dedaunan bahkan ranting2 yang bernyanyi tentangku. Kala itu Biduk dihantam badai dan ombak kehidupan. Susah payah aku melawan takdir kehidupan melawan ombak dan karang menjangkau tepian iman.


Semua keindahan yang kuceritakan dan yang pernah kuimpikan bagai bayi yang rindu air susu ibunya. Namun sahabat, kerinduan itu begitu melukai semangatku. Sepertinya aku dipenjarakan dalam kegelapan masa remaja. Bagai derita seekor elang dalam sangkar tatkala melihat sekumpulan burung lain terbang bebas diangkasa. Lembah2 dan bukit2 itu menyentak khayalanku, tetapi pikiran2 pahit telah menyulam jaring2 keputus asaan disekeliling hatiku. Setiap aku pergi keladang, aku pulang dgn kecewa.. tanpa mengerti sebab kekecewaan itu. Setiap waktu aku lihat langit mendung, aku rasakan hatiku terikat erat. Setiap saat aku dengar nyanyian burung2 dan alunan musim semi, aku menderita tanpa mengerti alasan kesengsaraanku itu. Orang bilang ketakpuasan membuat seorang lelaki nelangsa.

Kesunyian memiliki kelembutan seperti sutera, tetapi dengan jarinya yang kuat ia mencengkram hati dan membuatnya menderita dengan dukacita. Kesunyian adalah sekutu dukacita.

Kedukacitaan itu merintangiku selama masa remaja, tidak disebabkan kekosongan hiburan karena aku bisa memilikinya atau dari ketiadaan karib karena kau dapat menemukan mereka. Kedukaan itu yang membuatku mencintai kesunyian.

Begitulah sahabat, kehidupan masa remaja diusia sebelum 18. Masa itu seperti ujung gunung dalam kehidupanku, karena hal itu membuka mataku, menggugah wawasan dalam diriku dan membuatku mengerti jatuh bangunnya nasib manusia. Tuhan dapat membalikkan nasib manusia hanya dlm hitungaan detik.

Lunglai aku berjalan menepis tatapan mata sinis . Karena terkadang cerita hidup tdk berdasarkan fakta dan kejadian, akan tetapi hanya dari pikiran dikepala orang. Belajar dari kesalahan tidak menghalangi sebuah perjalanan. Meninggalkan masa lalu demi kesuksesan yang mahal memberi pengalaman penting tentang arti bertahan, Terimakasih pengalaman.. ......... .....

Andai seseorang dilahirkan kembali, memulai kehidupan bagai kertas kosong dalam buku kehidupan dan diisi dgn cerita indah. Aku melihat setan2 mengamuk dalam hati sang durjana. Siapa yang tidak melihat malaikat dan setan dalam keindahan dan kecantikan kehidupan, akan terjauhkan dari KEARIFAN dan jiwanya kosong tanpa KASIH...

1 komentar:

dee.raa mengatakan...

bleh di komentar...silahkan!